Agar Klaim Asuransi Lancar

http://www.sinarharapan.co.id
EUREKA
(Edukasi dan Ulasan Perencanaan Keuangan)
Pengasuh: Tim Indonesia School of Life (In-School)
http://www.in-school.org/
Andrias Harefa, Roy Sembel, M Ichsan, Heru Wibawa, Parpudi Lubis

Ada seorang ibu yang menangis tersedu-sedu mengadu kepada Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia karena klaim kematian (asuransi jiwa) milik suaminya yang baru saja meninggal, tidak dibayarkan oleh perusahaan asuransi. Usut punya usut, uang premi yang selama ini disetorkan nasabah (si bapak) kepada agen asuransinya, ternyata tidak disetorkan ke perusahaan. Tentu saja perusahaan asuransi menolak membayarkan klaim tersebut setelah si bapak meninggal karena perusahaan asuransi justru menganggap si bapak tak pernah membayar uang premi.
Hal seperti di atas ini, bukan mustahil dijumpai bila Anda bertemu agen asuransi yang nakal. Di samping tidak menyetorkan uang premi titipan nasabah, para agen atau tenaga sales terkadang juga melakukan “kenakalan” lainnya. Jenis-jenis “kenakalan” agen asuransi yang perlu Anda ketahui antara lain adalah sebagai berikut.
Pertama, demi memenuhi target penjualannya, agen asuransi sering kali melupakan kepentingan pembeli. Contohnya, merayu calon nasabah membeli produk asuransi yang belum tentu dibutuhkan.
Kedua, mereka hanya mempresentasikan keunggulan atau benefit produk asuransinya karena ingin menutup penjualan cepat-cepat. Si agen enggan meluangkan waktu lebih lama untuk menerangkan peraturan mengenai persyaratan kondisi risiko yang bisa diklaim, persyaratan dan cara mengajukan klaim.
Ketiga, Setelah transaksi terjadi, agen asuransi “nakal” biasanya melupakan kliennya. Hal ini juga bisa disebabkan karena agen asuransi mudah sekali berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya atau berpindah-pindah.
Ulah agen-agen “nakal” ini memang ujung-ujungnya menyulitkan nasabahnya dalam mengajukan klaim. Ditambah lagi, kesalahan para nasabah dalam membeli asuransi yang umumnya kurang memahami produk yang ditawarkan dengan berbagai alasan. Misalnya, membeli karena terpaksa karena si agen itu temannya, terbujuk rayuan iklan, dan masih banyak alasan lainnya.
Akibatnya, Anda sebagai pemegang polis yang dirugikan. Bentuk kontrak kerja sama asuransi antara perusahan asuransi dan pemegang polis yang rumit, membuat orang malas membaca dan memahaminya. Peran agen asuransi menjadi sangat dibutuhkan dalam hal ini.
Oleh karena itu, nasabah sebaiknya proaktif dengan selalu menanyakan secara detail kontrak perjanjian dan meluangkan waktu membaca polis dan memahaminya. Karena polis itulah yang selalu dijadikan rujukan, bukan dari apa yang dikatakan agen asuransi.
Umumnya perusahaan asuransi memberikan semacam Jaminan Uang Kembali kalau ternyata Anda tidak puas terhadap pasal-pasal yang tertera dalam polis. Anda bisa mengembalikan polisnya, dan uang Anda akan kembali. Tentu saja, selama pengembalian polis itu berada dalam batas jangka waktu tertentu yang ditetapkan perusahaan asuransi, yang biasanya 30 sampai 90 hari.
Nah, untuk membuktikan apakah presentasi yang diberikan agen asuransi benar, Anda tinggal mencocokkan saja dengan polis Asuransi yang diterbitkan. Bila sama, berarti agen asuransi Anda memang jujur dan bisa dipercaya.
Singkatnya, jika kita mau membeli asuransi, selain kita juga harus memperhatikan reputasi perusahaan asuransinya, kita juga harus bersedia meluangkan waktu untuk mempelajarinya. Dengan demikian risiko kesalahpahaman bisa dikurangi serendah mungkin.

Penyebab Klaim Asuransi Tidak Dibayar
Kesulitan mengajukan klaim asuransi biasanya terjadi karena berbagai sebab, antara lain:

Kesalahan Nasabah
1. Kesalahan Informasi
Sebelum seseorang memiliki produk asuransi jiwa, ia lebih dulu harus mengisi Surat Permohonan Asuransi Jiwa (SPAJ). Dalam SPAJ terdapat pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh seorang calon nasabah, dan dari jawaban-jawaban itulah perusahaan asuransi akan melihat apakah akan memberikan perlindungan Asuransi Jiwa kepada Anda atau tidak.
Nah, saat mengisi SPAJ inilah sering kali calon nasabah tidak memberikan jawaban yang sebenarnya. Misalnya, dalam SPAJ terdapat pertanyaan tentang apakah Anda pernah dirawat di RS dalam dua tahun terakhir. Jika Anda menjawab tidak—padahal pernah dirawat di RS enam bulan lalu misalnya—maka bila terjadi kematian pada Anda dan perusahaan asuransi menemukan bahwa penyebab kematian Anda adalah karena adanya penyakit yang pernah membuat Anda masuk RS sekitar enam bulan lalu, yah… jangan harap perusahaan asuransi akan membayar UP yang mereka janjikan.

2. Klaim Bukan Risiko Tertanggung
Kadang-kadang perusahaan asuransi jiwa tidak memberikan manfaat yang mereka janjikan bila ternyata penyebab kematian Anda memang dikecualikan (dan pengecualian itu ditulis dalam polis). Mengenai pengecualian ini, umumnya perusahaan asuransi menetapkan jumlah pengecualian yang bervariasi.
Akan tetapi, umumnya adalah kematian karena bunuh diri, kematian karena orang yang bersangkutan melakukan tindak kriminal, kematian karena AIDS, kematian karena penyakit kritis, di mana kematian terjadi pada tahun pertama dia mengikuti program asuransi dari PA bersangkutan, kematian karena force majeure, atau hal-hal yang memang tidak bisa dihindari, seperti perang, bencana alam, atau huru-hara yang tidak tercantum dalam klausul perjanjian.
Nah, sering kali pengecualian-pengecualian yang terdapat dalam polis itu tidak dibaca nasabah, sehingga ia merasa dirugikan ketika Uang Pertanggungan Asuransinya tidak dibayar. Oleh karena itulah, jika Anda memiliki polis asuransi, sempatkan lagi untuk membaca pasal-pasal yang ada dalam polis.

3. Nasabah Terlalu Lama Mengajukan Klaim
Umumnya, perusahaan asuransi menetapkan batasan waktu pengajuan klaim asuransi. Biasanya, batasan waktu yang ditetapkan adalah tiga bulan. Repotnya, nasabah sering kali mengajukan klaim di luar batas waktu tersebut, sehingga perusahaan asuransi sulit memenuhinya.
Sebagai contoh, suami Anda mengikuti sebuah Program Asuransi Jiwa dengan Anda sebagai ahli warisnya. Bila terjadi kematian pada suami Anda, Anda hanya bisa mendapatkan manfaat asuransi yang dijanjikan apabila pengajuan klaim Anda masih berada dalam batas waktu tiga bulan setelah kematian tersebut. Jika tidak, perusahaan asuransi mungkin tidak mau memberikan manfaat yang mereka janjikan.
Sekarang, bagaimana Anda bisa tahu lama batasan waktu yang diberikan perusahaan asuransi Anda dalam mengajukan klaim kematian? Anda bisa membacanya di Polis Asuransi Anda. Setelah itu, jika nanti betul terjadi risiko kematian, segeralah ajukan klaimnya kepada perusahaan asuransi.

4. Tidak Lengkapnya Bukti atau Data
Perusahaan asuransi biasanya meminta sejumlah persyaratan saat pengajuan klaim apabila betul terjadi risiko kematian pada orang yang ditanggung. Persyaratan-persyaratan itulah yang sering tidak dipenuhi atau dilengkapi oleh ahli waris nasabah, sehingga perusahaan asuransi tentu tidak bisa langsung membayar klaim mereka.
Biasanya, persyaratan-persyaratan yang diminta perusahaan asuransi bila Anda ingin mengajukan klaim kematian adalah surat kematian, surat dari RT/RW setempat, fotokopi identitas diri ahli waris, dan lain-lain.

5. Ada Tagihan Premi Belum Terbayar
Jika Anda tidak membayar premi sesuai jangka waktu yang ditentukan, bisa saja polis asuransi Anda menjadi tidak berlaku lagi. Ini berarti Anda tidak lagi dilindungi asuransi. Inilah yang sering terjadi. Di awal-awal, nasabah secara reguler membayar premi, tetapi pada suatu saat tertentu, premi tidak lagi dibayar, bahkan hingga batas waktu tertentu.
Oleh karenanya, pastikan Anda mengetahui peraturan pembayaran premi Anda. Jangan sampai polis asuransi Anda menjadi tidak berlaku lagi hanya gara-gara Anda lupa membayar premi tepat waktu. Dan untuk menghindarinya Anda ditipu oleh agen asuransi yang pura-pura bisa membayarkan premi Anda, hindari membayar premi lewat agen. Lebih baik, transfer lewat bank atau minta perusahaan asuransi langsung mendebet rekening Anda di bank.

Kesalahan Perusahaan Asuransi
Jika ternyata Anda telah memenuhi semua persyaratan yang diminta, jujur dalam mengisi SP, rajin membayar premi, mengirimkan pengajuan klaim masih dalam jangka waktu yang ditentukan, tetapi klaim Anda masih juga belum dibayarkan, coba cek lagi. Bisa saja perusahaannya bandel. Solusinya, tulis surat pembaca di media massa terkemuka dan laporkan ke Yayasan Lembaga Konsumen. Mudah-mudahan, perusahaan asuransi Anda akan memperhatikan dan segera membayar klaim Anda.
Bila tidak juga, angkat masalah ini ke pengadilan bila dengan kedua langkah tersebut tak juga mempan.

Memilih Perusahaan Asuransi
Bandingkan 3 sampai 5 perusahaan asuransi, lalu pelajari satu per satu sambil bertanya kepada teman-teman atau kerabat Anda yang telah membeli produk di sana. Tanyakan, bagaimana servis yang diberikan para agennya, apakah cukup baik? Bagaimana pula dengan after sales service-nya? Setelah itu, pilih salah satu yang dirasa bisa memenuhi keinginan Anda. Untuk lebih lengkapnya, pertimbangkan hal-hal sebagai berikut ini:

Reputasi Pelayanan
Cara menilai reputasi pelayanan, salah satunya adalah dengan mendatangi sendiri kantor perusahaan asuransi tersebut. Nilailah pelayanan yang diberikan ketika Anda mendatangi perusahaan itu. Dengan mendatangi sendiri perusahan tersebut maka Anda dapat mengetahui kualitas pelayanan seperti apa yang akan Anda temui ketika Anda harus datang sendiri kelak, misalnya, dalam mengurus uang pertanggungan Anda.

Reputasi Keuangan
Menilai reputasi keuangan adalah dengan menilai laporan keuangan perusahaan tersebut yang bisa Anda minta atau Anda lihat di media cetak maupun di media elektronik. Nilailah seberapa besar kekuatan modal perusahaan tersebut dibandingkan dengan perusahaan yang lain. Nilai juga seberapa bagusnya arus kas dari perusahaan tersebut. Dalam dunia asuransi, dikenal istilah RBC atau Risk Based Capital. Ini adalah sebuah cara untuk menilai kesehatan perusahaan asuransi Anda.
Pilihlah Perusahaan Asuransi yang memiliki RBC 120 persen atau lebih. Kalau Anda bingung apa itu RBC, cukup tanyakan saja berapa RBC perusahaan asuransi Anda kepada agen asuransi Anda. Kalau lebih dari 120 persen, itu berarti bagus. Kurang dari itu, lebih baik cari yang lain.

Reputasi Pemilik dan Manajemen
Perhatikan juga siapa pemilik mayoritas dan siapa pengelola perusahaan asuransi Anda. Lihat apakah mereka memiliki reputasi yang tercela di masyarakat. Memang, terkadang hal ini mungkin terlihat agak subjektif, tetapi tidak ada salahnya kalau Anda mengenal siapa pemilik dan siapa pengelola perusahaan asuransi Anda. Kalau mereka memiliki reputasi yang tercela, hindari.
Kalau Anda memilih perusahaan asuransi jiwa joint venture, Anda dapat melihat bagaimana reputasi dari perusahaan asing tersebut di berbagai negara lain. Dan jika memilih perusahaan asuransi jlokal (bukan joint venture), pilihlah perusahaan yang memiliki reputasi ”tahan banting”, yaitu perusahaan yang cukup tua dan sudah pernah melalui berbagai macam krisis. Kalau perusahaan asuransi jiwa tersebut merupakan bagian dari sebuah grup usaha besar (konglomerat), coba lihat juga bagaimana kinerja dari grup usaha besar tersebut. Ini karena kadang-kadang, meruginya salah satu perusahaan dalam grup usaha besar bisa saling mempengaruhi keuntungan dan kerugian perusahaan lainnya yang terdapat dalam grup usaha tersebut.
Demikianlah beberapa hal yang bisa Anda lakukan agar benefit asuransi yang seharusnya Anda peroleh bisa didapat sesuai dengan yang diharapkan. Miliki proteksi asuransi agar perjalanan keuangan keluarga aman dan nyaman. Selamat berasuransi.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s